Pada khotbah sebelumnya, kita sudah belajar mengenai betapa pentingnya pengenalan akan Allah yang benar. Kemudian kita belajar bagaimana orang Kristen memandang tentang pengalaman hidupnya. Seringkali kita terpengaruh oleh pengalaman hidup. Pengenalan kita terhadap Allah pun bergantung pada pengalaman hidup yang dijalani. Jikalau pengalaman hidup begitu susah dan pahit maka kita memberi definisi bahwa Allah itu tidak baik, begitu juga sebaliknya, Allah itu baik jikalau kita selalu dilimpahi berkat-berkat dan kelancaran.
Pengenalan tentang Allah dengan benar dan kerohanian yang dewasa itu tidak dipengaruhi oleh kondisi kehidupan kita. Pengenalan akan Allah itu tidak dipengaruhi oleh pengalaman yang kita miliki. Allah tetaplah adalah Allah yang baik meskipun kehidupan kita mengalami hal yang paling buruk sekalipun. Tetapi orang Kristen yang tidak dewasa menilai kebaikan Allah hanya berdasarkan kondisi kehidupannya yang baik, begitu keadaan hidupnya tergoncang maka penilaian terhadap Allah pun ikut tergoncang. Sebenarnya, masalah yang terjadi dalam kehidupan kita bukanlah terletak pada masalah itu sendiri tetapi terletak pada cara pandang kita terhadap masalah tersebut. Contohnya, orang yang mengatakan bahwa Allah itu baik, Allah itu baik karena bagi orang tersebut, Allah selalu memberikan apa yang dia minta dalam hidupnya. Maka kesimpulan orang tersebut terletak pada cara pandang orang itu dalam menghadapi masalah yang terjadi yaitu orang itu selalu hidup lancar, baik, dan permintaannya selalu dikabulkan. Berarti kebaikan Allah itu ditentukan oleh cara pandang orang tersebut. Kebaikan Allah itu didasarkan pada kesuksesan atau kelancaran yang selalu kita dapatkan dalam hidup. Jikalau hidup kita selalu lancar dan berjalan baik maka itulah Allah yang baik, itulah cara pandang kita. Sesungguhnya, kesimpulannya, apa pun yang terjadi di dalam kehidupan kita, Allah tetap punya maksud yang baik. Jika kita sungguh berpegang dan percaya pada prinsip ini maka seburuk apa pun keadaan hidup yang harus kita hadapi, kita tetap bisa menjalaninya dengan baik.
Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan pada khotbah kali ini :
1. Patutkah kita mencurigai Tuhan yang baik dalam hidup ini ? Tanpa sadar kita telah mencurigai Tuhan dalam peristiwa-peristiwa kehidupan yang kita jalani. Maka dari pemazmur dalam mazmurnya ini secara keseluruhan, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kita tidak patut mencurigai Tuhan sebab Dia itu baik. Oleh karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk boleh mencurigai bahkan protes kepada Tuhan.
2. Mengapa Allah itu baik ? Sebab Allah pada dirinya sendiri adalah baik. Kebaikan Allah itu tidak dipengaruhi oleh apa pun yang kita alami. Kita tidak bisa mengukur kebaikan Allah berdasarkan ukuran/standar kita sendiri karena kita ini manusia yang memiliki keterbatasan dalam melihat. Dapatkah manusia dengan keterbatasan tersebut mengukur atau menilai kebaikan Allah ? Firman Tuhan mengatakan bahwa orangtua yang di dunia ini saja mempunyai maksud yang baik bagi anak-anaknya, demikian pula Bapa yang di Sorga mempunyai maksud yang baik untuk anak-anak-Nya. Bapa yang di Sorga pasti mempunyai maksud baik yang melampaui maksud baik dari semua orangtua yang di dunia ini. Hal inilah yang harus menjadi pegangan kita baik maupun tidak baik keadaan hidup yang kita alami.
3. Mengapa Allah itu baik ? Sebab hal yang terindah dari Allah itu sudah terbukti di dalam kehidupan setiap kita yaitu kematian Kristus untuk menebus dosa kita. Hal inilah yang melampaui segala-galanya. Hal inilah yang menjamin sehingga segala permasalahan tidak ada artinya karena Kristus mau mati bagi kita untuk menebus dosa kita dan menyediakan hidup yang kekal bagi kita. Inilah yang membuktikan kasih Allah. Kasih Allah ini melampaui segala sesuatu yang dapat terjadi dalam kehidupan kita.
4. Kita seringkali tidak bisa melihat kebaikan Allah karena kita jarang bahkan tidak pernah menghitung kebaikan Tuhan yang telah terjadi sepanjang kehidupan kita. Apakah kita tidak pernah mempedulikan kebaikan Tuhan yang terjadi dalam hidup ini ? Apakah kita merasa bahwa kebaikan Tuhan yang dialami itu memang sudah seharusnya/sewajarnya ? Sehingga kebaikan Tuhan yang besar yang telah dialami itu mendadak menjadi lenyap ketika satu peristiwa hidup yang buruk terjadi menimpa hidup kita. Itu bisa terjadi karena kita tidak pernah menghitung berkat atau kebaikan Tuhan yang banyak terjadi dalam hidup. Bacalah Roma 8:35-39 dan Roma 8:28. Apa pun yang terjadi di dalam kehidupan kita, tidak akan pernah bisa memisahkan kita dari kasih Allah termasuk segala permasalahan kita bahkan maut sekalipun.