RIngkasan Khotbah: 07 Juli 2025
Ibadah, Persembahan dan Pengorbanan
Pdt. Andi Halim, M.Th.
Istilah pengorbanan diterjemahkan ke bahasa Inggris, yaitu sacrifice. Prinsipnya, dalam sacrifice selalu ada binatang yang disembelih dan dipersembahkan dalam ibadah bangsa Israel. Memang ada korban persembahan yang tanpa pencurahan darah, misalkan korban persembahan ucapan syukur dari hasil bumi, korban pujian dsb (bnd Im 7:11-21). Namun hakekat pengorbanan sebenarnya cuma melambangkan satu hal, yaitu pengorbanan Tuhan Yesus di kayu salib untuk menebus dosa manusia (Im 1:1-17).
Dan hampir segala sesuatu disucikan menurut hukum Taurat dengan darah, dan tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan. Heb 9:22 Dalam hakekatnya, kita sebagai manusia sebenarnya tidak dapat mengorbankan apa-apa, karena yang bisa memberikan sesuatu dari dirinya sendiri, dan pemberian itu adalah benar-benar layak memenuhi standard Allah, hanyalah Tuhan Yesus Kristus. Sedangkan kita sebagai orang percaya adalah tebusan dari pada korban Kristus di kayu salib, istilahnya kita sudah dibeli dan harganya telah lunas dibayar oleh darah Kristus (bnd 1Kor 6:19 -20). Jadi hidup kita bukan milik kita sendiri, bahkan apapun yang kita miliki bukan milik kita sendiri, karena semua yang kita miliki itu adalah dititipkan oleh Allah pada kita untuk digunakan dengan bertanggung jawab. Maka sebenarnya kita tidak memiliki apa-apa dari diri kita sendiri untuk dikorbankan, termasuk hidup kita.
Meskipun demikian dalam Rom 12:1, dikatakan supaya kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup (AV: living sacrifice, TL: korban yang hidup). Namun sacrifice disini tidak dapat disamakan artinya dengan sacrifice yang dilakukan oleh Tuhan Yesus (Efe 5:2, Ibr 9:28). Sacrifice dalam Rom 12:1 bukan dalam arti sampai mencucurkan darah dan menyerahkan nyawa, namun sebagai rasa
ucapan syukur kepada Allah yang sudah menebus kita dari kebinasaan. Kalau kita menafsirkan secara kontentual, maka yang dimaksud korban yang hidup adalah kita menyerahkan seluruh hidup kita bagi Allah.
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Rom 12:1 Dari pemahaman dasar di atas tentang pengorbanan, kita diingatkan bahwa pengorbanan yang sejati adalah pengorbanan Kristus. Karena itu sebagai orang tebusan Kristus, seharusnyalah hidup kita tidak bisa dilepaskan dari ungkapan rasa syukur. Karena itu dalam ibadah, kita seharusnya tidak melupakan kewajiban memberi persembahan kepada Tuhan sebagai wujud ungkapan ucapan syukur kepada Allah yang sudah menyelamatkan melalui persembahan korban yang sejati, yaitu Tuhan Yesus Kristus.
Persembahan seluruh hidup, berarti menyangkut seluruh aspek hidup tanpa kecuali (termasuk harta, waktu, tenaga dsb) dipersembahkan demi kemuliaan Allah. Konsep ini lahir dari konsep yang utuh (integrated) dari keseluruhan Firman Tuhan. Hidup itu tidak terbagi-bagi, sebagian hidup untuk Allah dan sebagian hidup untuk duniawi dan sebagian hidup untuk kepentingan diri kita sendiri. Seluruh hidup adalah milik Allah dan untuk Allah, karena segala sesuatu berada di bawah kedaulatan Allah.
Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. 1Co 10:31 Pendek kata, pengorbanan dalam ibadah itu wajib ada. Salah satu bentuknya berupa persembahan. Apa yang kita persembahkan kepada Tuhan seharusnya yang terbaik. Mengapa demikian? Karena Tuhan sudah memberi yang terbaik bagi kita, Ia membeli kita dengan harga yang mahal, yaitu nyawaNya sendiri, dan Ia adalah TUHAN dalam hidup kita. Sesudah baca renungan ini, mari kita bersama-sama memikirkan, apa yang terbaik yang bisa kita berikan untuk kemuliaan Allah? Amin.
Bila kita mengaku, bahwa kita adalah orang Kristen, namun tidak mau menyerahkan hidup kita bagi kemuliaan namaNya, maka ada beberapa kemungkinan.
Yang pertama mungkin kita tidak tahu apa tujuan dari kita ditebus dengan darah Kristus yang mahal. Kita menganggap jadi Kristen adalah identik dengan saya menerima anugerah keselamatan demi kepentingan hidup saya sendiri, jadi saya menikmati hidup selamat ini untuk diri saya sendiri.
Yang kedua, kita adalah orang yang tidak tahu berterima kasih alias kurang ajar. Sikap ini identik dengan sikap yang menghina karya Kristus dan memandang rendah alias meremehkan alias tidak menghargai. Bila ada pengemis yang kita beri uang, lalu ia mengambil uang itu langsung pergi, tanpa mengucapkan terima kasih dan tanpa sikap hormat sama sekali, kita langsung marah dan menganggap pengemis ini tidak tahu berterima kasih dan kurang ajar. Demikian pula kalau sikap kita seperti itu kepada Allah yang sudah menganugerahkan kepada kita keselamatan yang amat sangat berharga itu.
Yang ketiga, kita tahu akan anugerah Allah, dan kita tahu kalau harus berterima kasih, namun kita masih terikat pada hati yang mencintai harta lebih dari pada Tuhan, atau masih dikuasai kekuatiran akan masa depan, karena hari inipun masih terus dalam kekurangan. Sebaliknya ada orang yang kaya raya, namun karena ia sangat mencintai hartanya yang berkelimpahan, ia merasa sangat sayang kalau harus menyerahkan persepuluhannya sebesar 200 Juta perbulan. Tuhan Yesus berkata dimana hartamu berada disitu juga hatumu berada.
Dalam hal ini kita harus menyadari bahwa harta itu bukan tujuan hidup kita. Harta itu hanya bernilai sementara, dan kita tidak boleh dikuasai hawa nafsu kedagingan dan harta duniawi. Kita memandang harta sebagai titipan Tuhan dan alat yang bisa dipakai untuk mendukung pelayanan pekerjaan Tuhan.